Jakarta, 6 November 2026 – Sony kembali menghadirkan headphone klasik yang pernah menjadi bagian penting dari sejarah pemutar musik portabel Walkman melalui peluncuran MDR-3R. Perangkat audio tersebut merupakan interpretasi modern dari headphone MDR-3 yang diperkenalkan bersama Walkman generasi pertama pada 1979. Sony mempertahankan tampilan retro yang menjadi ciri khas produk aslinya, tetapi menambahkan sejumlah fitur untuk memenuhi kebutuhan pengguna masa kini. Kehadiran MDR-3R menjadi upaya perusahaan menghidupkan kembali pengalaman mendengarkan musik klasik dengan teknologi yang lebih praktis.
Desain MDR-3R dibuat menyerupai headphone Walkman generasi awal dengan konstruksi ringan dan bentuk sederhana. Sony mempertahankan rangka kepala berbahan logam serta bantalan telinga berbusa yang menjadi identitas produk tersebut. Pengguna mendapatkan pilihan bantalan berwarna biru dan oranye yang dapat diganti sesuai selera. Bahkan, desain kemasan dan buku petunjuknya dibuat dengan mengadaptasi tampilan produk terdahulu. Pendekatan ini ditujukan untuk menghadirkan nuansa nostalgia bagi penggemar perangkat audio klasik.
Dari sisi teknologi, Sony mengganti konektor audio tradisional dengan USB Type-C agar headphone dapat digunakan pada perangkat modern. MDR-3R dapat dihubungkan langsung ke smartphone, tablet, maupun perangkat lain yang mendukung standar audio USB. Karena menggunakan sambungan kabel, pengguna tidak perlu melakukan pengisian baterai ataupun proses pemasangan Bluetooth. Sony juga menyematkan mikrofon dan pengendali pada kabel untuk memudahkan pengguna menerima panggilan serta mengatur pemutaran musik. Fitur tersebut memberikan kemudahan tambahan tanpa menghilangkan karakter sederhana headphone klasik.
Untuk menghasilkan kualitas suara yang mendekati model aslinya, Sony menggunakan unit driver berdiameter 23 milimeter. Komponen tersebut dirancang berdasarkan spesifikasi headphone MDR-3 terdahulu dengan penyesuaian terhadap karakter audio modern. Sony menyebut MDR-3R mampu menghadirkan suara yang alami dan seimbang, terutama dalam reproduksi vokal serta detail musik. Perangkat ini juga mempertahankan desain terbuka yang memungkinkan pengguna tetap mendengar sebagian suara dari lingkungan sekitar. Bobotnya yang ringan dirancang untuk mendukung kenyamanan penggunaan dalam waktu lama.
Selain model standar, Sony memperkenalkan MDR-3R edisi khusus yang terinspirasi serial Netflix Stranger Things. Kolaborasi tersebut memanfaatkan kedekatan tema serial dengan budaya populer era 1980-an, ketika Walkman menjadi salah satu perangkat musik paling dikenal. Edisi khusus ini menampilkan logo Stranger Things pada bodi headphone serta kemasan dengan desain eksklusif. Bantalan telinganya menggunakan kombinasi warna merah dan hitam untuk membedakannya dari model reguler. Sony menghadirkan varian tersebut sebagai produk koleksi bagi penggemar serial dan perangkat audio retro.
Sony juga menerapkan pendekatan ramah lingkungan dalam pengembangan MDR-3R. Sekitar 25 persen material plastik yang digunakan pada produk berasal dari plastik daur ulang. Perusahaan turut mengurangi penggunaan plastik pada kemasan sebagai bagian dari upaya menekan dampak lingkungan. Untuk pasar Eropa, headphone MDR-3R ditawarkan dengan harga rekomendasi sekitar 59 euro, sedangkan edisi Stranger Things dibanderol sekitar 69 euro. Di Jepang, produk tersebut dijadwalkan mulai dipasarkan pada 20 November 2026 dengan perkiraan harga 8.000 yen untuk model standar.
Kehadiran MDR-3R menunjukkan bahwa Sony masih melihat peluang pasar bagi perangkat audio berkabel di tengah dominasi headphone nirkabel. Desain klasik yang dipadukan dengan konektivitas modern menjadi daya tarik bagi konsumen yang mengutamakan kesederhanaan dan pengalaman nostalgia. Meski mengusung identitas Walkman, Sony menyatakan penggunaan headphone tersebut dengan perangkat Walkman tidak direkomendasikan karena perbedaan sistem koneksi. Informasi mengenai harga resmi dan ketersediaannya di Indonesia belum diumumkan. Peluncuran MDR-3R sekaligus memperlihatkan bagaimana produk legendaris dapat diperkenalkan kembali kepada generasi baru tanpa meninggalkan identitas historisnya.




