Jakarta, 21 Oktober 2026 – Artis Inara Rusli kembali menyampaikan keinginannya untuk berdamai dengan Wardatina Mawa di tengah polemik rumah tangga yang turut menyeret nama Insanul Fahmi. Mantan istri Virgoun tersebut mengaku tidak ingin perselisihan yang berlangsung berkepanjangan memberikan dampak buruk terhadap kehidupan anak-anak mereka. Inara berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mengesampingkan ego dan mencari penyelesaian melalui komunikasi secara langsung. Baginya, kepentingan keluarga dan masa depan anak-anak harus menjadi pertimbangan utama dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Keinginan tersebut disampaikan Inara ketika memberikan keterangan di Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.
Inara menegaskan bahwa dirinya sejak awal tetap membuka kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Ia berharap dapat duduk bersama Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi untuk membicarakan langkah terbaik bagi kehidupan mereka selanjutnya. Menurut Inara, pertemuan secara langsung diperlukan agar setiap pihak memiliki kesempatan menyampaikan pandangan tanpa memperpanjang kesalahpahaman. Ia juga menginginkan pembicaraan berlangsung dengan sikap saling menghormati dan mengutamakan penyelesaian masalah. Harapan untuk melakukan islah atau perdamaian tersebut disebutnya tidak pernah berubah meskipun persoalan yang dihadapi semakin kompleks. Inara meyakini komunikasi yang baik dapat membuka peluang tercapainya kesepakatan yang lebih mengutamakan kepentingan keluarga.
Salah satu alasan utama Inara menginginkan perdamaian adalah kekhawatirannya terhadap kondisi emosional dan masa depan anak-anak. Ia menilai konflik berkepanjangan di antara orang dewasa tidak seharusnya membuat anak kehilangan kesempatan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Inara mengingatkan bahwa kehidupan anak-anak akan terus berjalan meskipun hubungan antara orang dewasa mengalami perubahan. Oleh karena itu, ia berharap seluruh pihak mampu menempatkan kebutuhan anak di atas kepentingan pribadi. Ia juga menekankan bahwa keputusan untuk berdamai bukan merupakan bentuk kelemahan dalam menghadapi persoalan. Sebaliknya, langkah tersebut dipandang sebagai upaya bertanggung jawab untuk menjaga kehidupan keluarga dalam jangka panjang.
Inara turut menyinggung pentingnya penerapan pola pengasuhan bersama atau co-parenting yang sehat. Menurutnya, hubungan antarpihak yang pernah mengalami konflik tetap dapat dibangun secara baik apabila terdapat komitmen untuk mendahulukan kepentingan anak. Pola pengasuhan tersebut membutuhkan komunikasi yang terbuka, pembagian tanggung jawab, serta kesediaan menghindari perselisihan di hadapan anak-anak. Inara berharap persoalan yang terjadi tidak membuat hubungan keluarga terus dibayangi kemarahan dan dendam. Ia juga menginginkan anak-anak tetap memperoleh kesempatan untuk menjalin hubungan emosional yang baik dengan orang tua masing-masing. Harapan tersebut menjadi salah satu alasan dirinya terus mengupayakan penyelesaian secara damai.
Perselisihan yang melibatkan Inara Rusli, Wardatina Mawa, dan Insanul Fahmi sebelumnya menjadi perhatian publik setelah muncul persoalan mengenai hubungan pernikahan mereka. Inara diketahui menjalani pernikahan siri dengan Insanul Fahmi pada Agustus 2025 ketika Insanul masih berstatus sebagai suami Wardatina Mawa. Kondisi tersebut kemudian memicu polemik hingga berujung pada laporan dugaan perzinaan ke Polda Metro Jaya pada November 2025. Inara sebelumnya menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui secara lengkap status pernikahan Insanul ketika menerima pinangan tersebut. Namun, persoalan tersebut tetap menjadi bagian dari proses hukum yang membutuhkan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, keinginan berdamai tidak serta-merta berarti seluruh permasalahan hukum telah selesai.
Selain persoalan dugaan perzinaan, Inara juga menghadapi perkembangan dalam perkara dugaan akses ilegal terhadap rekaman kamera pengawas atau CCTV di kediamannya. Tim kuasa hukumnya menyampaikan bahwa seorang mantan sopir bernama Agung telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Informasi itu disampaikan setelah pihak Inara mendatangi Polda Metro Jaya pada Senin (19/10/2026). Inara mengaku lega dengan perkembangan penyelidikan karena merasa persoalan yang selama ini menjadi perhatian mulai menemukan titik terang. Meski demikian, ia tetap membuka kemungkinan penyelesaian secara kekeluargaan dengan pihak-pihak terkait. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Inara berusaha memisahkan keinginannya untuk berdamai dari proses hukum yang sedang berlangsung.
Sementara itu, pihak kuasa hukum Insanul Fahmi juga menyatakan keterbukaan terhadap penyelesaian melalui pendekatan keadilan restoratif atau restorative justice. Namun, mereka menekankan bahwa mekanisme perdamaian harus memiliki ketentuan dan kesepakatan yang jelas agar tidak menimbulkan persoalan baru. Penyelesaian melalui jalur tersebut juga tetap harus memperhatikan aturan hukum dan persetujuan pihak-pihak yang berkepentingan. Sebelumnya, pihak Wardatina Mawa pernah menyampaikan bahwa upaya perdamaian perlu disertai itikad baik yang nyata. Karena itu, komunikasi langsung dan kesediaan untuk memenuhi kesepakatan menjadi bagian penting apabila proses perdamaian benar-benar dilakukan. Hingga kini, pernyataan Inara mengenai keinginan berdamai belum dapat diartikan sebagai kepastian bahwa seluruh pihak telah mencapai kesepakatan.
Keinginan Inara Rusli untuk mengakhiri perseteruan menjadi perkembangan terbaru dalam persoalan keluarga yang telah berlangsung cukup lama. Ia berharap Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi dapat mempertimbangkan kesempatan untuk duduk bersama serta mencari jalan keluar yang dapat diterima semua pihak. Meski hubungan di antara mereka mengalami berbagai dinamika, Inara menegaskan bahwa kesejahteraan anak-anak harus tetap menjadi perhatian utama. Penyelesaian secara damai dinilai dapat membantu mengurangi ketegangan apabila dilakukan dengan kesadaran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap hak masing-masing pihak. Namun, proses hukum yang masih berjalan tetap memerlukan penyelesaian sesuai mekanisme yang berlaku. Inara pun berharap persoalan tersebut tidak terus berkembang menjadi pertentangan pribadi yang justru merugikan masa depan keluarga dan anak-anak.




