Jakarta, 25 September 2026 –
Portugal mulai memperlihatkan identitas permainan berbeda di bawah kepemimpinan Jorge Jesus setelah mengalahkan Wales 1-0 pada pertandingan pertama UEFA Nations League 2026/2027 di Lisbon. Sang juara bertahan tampil dengan pendekatan ofensif, tekanan tinggi, dan keberanian menempatkan banyak pemain di wilayah pertahanan lawan. Joao Felix menjadi penentu kemenangan melalui gol pada menit ke-22 setelah menerima umpan Nuno Mendes. Felix menggambarkan pendekatan baru Portugal sebagai sepak bola yang sangat menyerang dengan pressing yang membuat lawan kesulitan mendapatkan waktu untuk mengembangkan permainan. Jesus pun mengaku puas karena sebagian gagasan yang dipersiapkannya sudah dapat terlihat pada pertandingan debutnya.
Salah satu perubahan paling terlihat adalah keberanian Portugal melakukan tekanan sejak Wales mencoba membangun serangan dari belakang. Para pemain depan tidak sekadar menunggu di area tengah, melainkan langsung bergerak mendekati bek dan gelandang lawan untuk mempersempit pilihan umpan. Portugal menggunakan pendekatan berorientasi pemain ketika melakukan pressing, dengan Cristiano Ronaldo dan Felix menjadi bagian dari garis tekanan pertama. Pemain di belakang mereka kemudian bergerak maju untuk menjaga jarak antarlini tetap rapat. Strategi tersebut membuat Wales beberapa kali kehilangan bola sebelum berhasil keluar dari area pertahanannya.
Ketika menguasai bola, Portugal juga mencoba membangun serangan dengan struktur yang memungkinkan banyak pemain berada di posisi ofensif. Ruben Neves beberapa kali turun di antara bek tengah untuk membantu proses pembangunan serangan, sementara Vitinha mengambil posisi sebagai penghubung di depan lini belakang. Bruno Fernandes bergerak ke ruang antarlini dan Nuno Mendes mempunyai kebebasan untuk maju dari sisi kiri. Ronaldo menempati area lebih tinggi untuk mengikat perhatian bek lawan, sedangkan Felix dapat turun mencari ruang sekaligus menghubungkan lini tengah dengan serangan. Pergerakan tersebut membantu Portugal menciptakan keunggulan jumlah pemain di sejumlah area sekaligus membuka jalur bagi pemain yang datang dari sisi lapangan.
Felix menjadi salah satu pemain yang paling mencerminkan sistem baru tersebut. Ketika Portugal kehilangan bola, ia mempunyai tanggung jawab menekan dan menutup akses umpan Wales menuju lini tengah. Saat menguasai bola, Felix dapat turun dari posisi penyerang untuk menerima umpan di antara lini tengah dan pertahanan lawan. Pergerakannya memberikan ruang kepada Ronaldo untuk tetap berada lebih dekat dengan garis belakang Wales. Pola tersebut akhirnya menghasilkan gol kemenangan setelah Felix mendapatkan ruang dan melepaskan tembakan yang membawa Portugal unggul. Jesus menggunakan Ronaldo dan Felix sebagai duet penyerang dalam pendekatan barunya pada pertandingan tersebut.
Pendekatan agresif Portugal tidak berarti aspek pertahanan diabaikan. Jesus justru menilai kemampuan mempertahankan keunggulan tanpa kebobolan sebagai salah satu hal positif dari pertandingan pertamanya. Wales sempat memperoleh kesempatan besar pada babak kedua ketika Brennan Johnson mengarahkan bola ke mistar dan Ruben Dias kemudian menggagalkan upaya lanjutan di dekat garis gawang. Portugal tetap mampu menyelesaikan pertandingan dengan keunggulan 1-0 meskipun tidak berhasil menambah gol. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem Jesus masih membutuhkan penyempurnaan, terutama agar dominasi dan tekanan yang dibangun dapat menghasilkan lebih banyak gol.
Intensitas permainan juga memengaruhi keputusan Jesus dalam mengelola pemain sepanjang pertandingan. Ketika memasuki sekitar 25 menit terakhir, Ronaldo ditarik keluar karena Portugal membutuhkan tenaga lebih segar untuk memberikan tekanan di lini depan. Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa pressing bukan sekadar pendekatan pada awal pertandingan, tetapi menjadi bagian penting dari struktur permainan yang ingin dipertahankan Jesus selama mungkin. Sang pelatih sebelumnya juga menegaskan bahwa status seorang pemain tidak otomatis membuatnya harus selalu bermain sepanjang pertandingan. Portugal mempunyai kedalaman skuad yang memungkinkan Jesus melakukan perubahan ketika intensitas permainan mulai menurun.
Kemenangan atas Wales baru menjadi pertandingan pertama sehingga gambaran mengenai Portugal di bawah Jesus masih berada pada tahap awal. Namun, beberapa karakter sudah terlihat jelas, yakni keberanian menyerang, garis tekanan tinggi, jarak antarlini yang rapat, dan upaya merebut kembali bola secepat mungkin. Ujian berikutnya akan datang ketika Portugal menghadapi Norwegia pada 27 September, dengan Erling Haaland dan rekan-rekannya menawarkan karakter serangan berbeda dibandingkan Wales. Pertandingan tersebut dapat memberikan gambaran lebih jauh mengenai kemampuan Portugal mempertahankan pressing tinggi ketika berhadapan dengan lawan yang mempunyai ancaman besar dalam transisi. Setelah membuka era barunya dengan kemenangan, Jesus kini mempunyai kesempatan mengembangkan sistem tersebut agar Portugal tidak hanya agresif ketika menyerang, tetapi juga semakin stabil ketika menghadapi lawan dengan kualitas ofensif lebih tinggi.




