Jakarta, 17 September 2026 – Vasektomi menjadi salah satu metode kontrasepsi pria yang kembali mendapat perhatian setelah aktor Krisjiana Baharudin mengungkap keputusannya menjalani prosedur tersebut. Suami penyanyi Siti Badriah itu memilih vasektomi setelah dirinya dan sang istri sepakat merasa cukup dengan dua anak. Krisjiana mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam perencanaan keluarga setelah melihat perjalanan istrinya menjalani kehamilan dan melahirkan. Ia juga menilai penggunaan kontrasepsi tidak harus selalu menjadi tanggung jawab perempuan. Selain Krisjiana, sejumlah figur publik pria Indonesia sebelumnya juga pernah mengungkap keputusan serupa. Nama Anji, Limbad, dan Giring Ganesha termasuk di antara artis yang diketahui pernah memilih vasektomi sebagai bagian dari perencanaan keluarga.
Krisjiana menjadi nama terbaru yang secara terbuka membagikan proses vasektominya kepada publik. Aktor berusia 32 tahun tersebut menjalani prosedur setelah bersama Siti Badriah memutuskan tidak berencana menambah anak. Pasangan yang menikah pada 25 Juli 2019 itu kini telah dikaruniai dua buah hati. Menurut Krisjiana, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perjuangan sang istri selama dua kali menjalani kehamilan hingga proses membesarkan anak. Ia memandang dirinya perlu mengambil bagian dalam kontrasepsi setelah keputusan mengenai jumlah anak disepakati bersama. Siti Badriah turut memberikan dukungan terhadap keputusan suaminya tersebut dan mendampingi proses yang dijalani Krisjiana.
Krisjiana juga menekankan bahwa keputusannya menjalani vasektomi tidak berkaitan dengan persoalan maskulinitas. Baginya, prosedur tersebut merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus penghormatan terhadap keputusan pasangan mengenai kehamilan. Ia berpandangan bahwa setelah seorang istri menjalani proses mengandung dan melahirkan, suami juga dapat mengambil peran lebih besar dalam urusan keluarga berencana. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena Krisjiana dan Siti sebelumnya pernah menghadapi perjalanan panjang untuk memperoleh keturunan. Krisjiana bahkan pernah menceritakan dirinya sempat mendapatkan diagnosis terkait kesuburan sebelum pasangan tersebut akhirnya memiliki anak. Setelah memiliki dua anak, keduanya kemudian sepakat bahwa jumlah anggota keluarga mereka saat ini telah cukup.
Selain Krisjiana, musisi Anji juga termasuk figur publik yang pernah terbuka mengenai keputusan menjalani vasektomi. Mantan vokalis Drive tersebut memilih prosedur itu sebagai salah satu bagian dari perencanaan keluarga. Keterbukaan Anji mengenai vasektomi ikut membuat metode kontrasepsi pria tersebut semakin dikenal masyarakat. Keputusan seperti ini umumnya membutuhkan pertimbangan matang karena vasektomi dirancang sebagai metode kontrasepsi jangka panjang atau permanen. Karena itu, pasangan perlu mendiskusikan rencana memiliki anak pada masa mendatang sebelum mengambil keputusan. Konsultasi dengan tenaga medis juga diperlukan agar calon pasien memahami prosedur, manfaat, risiko, serta pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan setelah tindakan.
Pesulap Limbad menjadi figur publik lainnya yang diketahui pernah menjalani vasektomi. Keputusannya sempat mendapatkan perhatian ketika muncul persoalan dalam kehidupan pribadinya yang berkaitan dengan kehamilan. Saat itu, informasi bahwa Limbad sebelumnya telah menjalani vasektomi menjadi salah satu hal yang ramai diperbincangkan. Limbad kemudian mengakui bahwa dirinya memang pernah menjalani prosedur tersebut. Kasus tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa vasektomi memiliki karakteristik yang perlu dipahami dengan benar, termasuk mengenai efektivitas dan pemeriksaan setelah tindakan. Seseorang yang baru menjalani vasektomi tidak dapat langsung diasumsikan bebas sperma sehingga tetap diperlukan konfirmasi medis setelah prosedur dilakukan.
Nama Giring Ganesha juga masuk dalam daftar figur publik pria Indonesia yang pernah dikaitkan dengan keputusan melakukan vasektomi. Mantan vokalis Nidji tersebut diketahui memilih prosedur tersebut dalam konteks perencanaan keluarga. Bersama Anji, Limbad, dan Krisjiana, keputusan Giring menunjukkan bahwa kontrasepsi pria juga menjadi pilihan yang digunakan oleh sebagian pasangan setelah mempertimbangkan kebutuhan keluarga masing-masing. Meski dilakukan oleh sejumlah figur publik, keputusan menjalani vasektomi tetap merupakan pilihan pribadi yang perlu didasarkan pada kondisi dan rencana setiap pasangan. Tidak semua pria berada dalam situasi yang sama sehingga keputusan tidak dapat disamaratakan. Konsultasi medis menjadi langkah penting sebelum menjalani prosedur tersebut.
Secara medis, vasektomi dilakukan dengan memotong atau menutup vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari testis menuju saluran reproduksi. Setelah prosedur berhasil, sperma tidak lagi bercampur dengan cairan semen ketika ejakulasi sehingga kemungkinan terjadinya pembuahan dapat dicegah. Vasektomi tidak berarti menghentikan produksi hormon testosteron dan tidak ditujukan untuk menghilangkan fungsi seksual pria. Prosedurnya relatif kecil dan umumnya dilakukan menggunakan anestesi lokal. Meski demikian, efek kontrasepsi tidak langsung tercapai sesaat setelah tindakan karena sperma masih dapat tersisa pada saluran reproduksi untuk sementara waktu. Pemeriksaan sampel semen setelah prosedur diperlukan untuk memastikan tidak lagi ditemukan sperma sebelum metode kontrasepsi lain dihentikan.
Karakter vasektomi sebagai metode kontrasepsi permanen membuat keputusan menjalani tindakan tersebut tidak seharusnya dilakukan secara terburu-buru. Meskipun terdapat prosedur untuk mencoba menyambungkan kembali saluran sperma, keberhasilannya tidak dapat dijamin. Karena itu, vasektomi terutama ditujukan bagi pria atau pasangan yang telah yakin tidak ingin memiliki anak lagi. Faktor usia, jumlah anak, kondisi keluarga, kesehatan, dan rencana jangka panjang dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum prosedur dilakukan. Tenaga medis biasanya memberikan penjelasan mengenai konsekuensi tersebut sebelum pasien mengambil keputusan. Pemahaman yang tepat juga penting untuk menghindari anggapan bahwa vasektomi dapat dengan mudah dibatalkan kapan saja apabila seseorang berubah pikiran.
Keputusan Krisjiana Baharudin, Anji, Limbad, dan Giring Ganesha menjalani vasektomi menunjukkan adanya figur publik pria yang memilih mengambil peran dalam kontrasepsi keluarga. Masing-masing memiliki latar belakang dan pertimbangan berbeda sehingga keputusan mereka tidak dapat dipandang sebagai satu pola yang sama. Munculnya cerita Krisjiana pada September 2026 kembali membuka pembicaraan mengenai pembagian tanggung jawab kontrasepsi antara suami dan istri. Vasektomi merupakan salah satu pilihan yang tersedia, tetapi sifatnya yang ditujukan sebagai kontrasepsi permanen membutuhkan pertimbangan serta konsultasi medis secara menyeluruh. Keputusan idealnya dibuat setelah pasangan memahami konsekuensi jangka panjang dan menyepakati rencana keluarga mereka. Keterbukaan sejumlah figur publik mengenai pengalaman tersebut pada akhirnya turut memperluas pembahasan mengenai pilihan kontrasepsi pria di tengah masyarakat.




