Jakarta, 27 Agustus 2026 – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan potensi penggunaan bahan berbasis tepung singkong untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Inovasi tersebut menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan bahan pemadam alternatif yang dinilai lebih efektif dibandingkan air biasa.
Gagasan yang kemudian dikenal sebagai “ubi bombing” itu muncul dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan pada 24 Agustus 2026. Saat itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya bahan berbasis tepung ubi atau singkong yang ditemukan anggota Babinsa di Lubuklinggau.
Mengapa Tepung Singkong Bisa Membantu?
BRIN menjelaskan bahwa potensi bahan tersebut berasal dari kandungan pati. Dalam formulasi tertentu, pati dapat dikombinasikan dengan senyawa lain, termasuk fosfat, untuk menghasilkan material yang membantu meningkatkan efektivitas air dalam proses pemadaman vegetasi.
Konsepnya bukan sekadar menaburkan tepung singkong kering ke atas api. Material berbasis pati perlu dirancang menjadi formulasi pemadam yang dapat membantu mempertahankan air pada permukaan bahan yang terbakar.
Dengan daya lekat dan kemampuan mempertahankan kelembapan yang lebih baik, bahan tersebut berpotensi memperpanjang proses pendinginan sehingga api lebih sulit kembali menyala.
Pernah Ada Penelitian Menggunakan Tepung
Pakar forensik kebakaran IPB University, Bambang Hero Saharjo, menjelaskan bahwa pemanfaatan tepung dalam material pemadam bukan sepenuhnya gagasan baru.
Dalam penelitian sebelumnya, ia pernah menggunakan tepung jagung yang dipadukan dengan sejumlah material lain hingga membentuk gel. Gel tersebut kemudian dapat diaplikasikan menggunakan pompa dan selang untuk membantu proses pemadaman.
Material berbentuk gel memiliki keunggulan karena dapat membantu mempertahankan air lebih lama pada lokasi kebakaran. Pada lahan gambut, material tersebut juga berpotensi menutup pori-pori sehingga bara yang berada di bawah permukaan lebih sulit kembali mendapatkan oksigen.
Namun, Bambang menegaskan dirinya belum mengetahui secara pasti efektivitas formulasi tepung singkong yang kini sedang dikembangkan.
Tidak Berarti Tepung Kering Langsung Memadamkan Api
Hal penting yang perlu dipahami adalah istilah tepung singkong sebagai bahan pemadam tidak berarti tepung tapioka biasa dapat langsung digunakan untuk memadamkan kebakaran.
Tepung kering memiliki karakteristik yang berbeda dengan material pemadam berbasis pati yang telah diformulasikan. Karena itu, diperlukan penelitian untuk menentukan komposisi, konsentrasi, cara aplikasi, serta tingkat efektivitasnya.
Bahkan, pati dalam bentuk partikel sangat halus memiliki sifat mudah terbakar dalam kondisi tertentu. Karena itu, penggunaan bahan tersebut harus melalui formulasi dan pengujian keselamatan yang tepat.
Efektif untuk Karhutla Gambut?
Salah satu tantangan terbesar adalah kebakaran di lahan gambut. Api pada gambut tidak selalu terlihat di permukaan karena bara dapat bertahan dan menjalar di bawah tanah.
Material berbentuk gel berpotensi membantu karena dapat mempertahankan kandungan air lebih lama dan menutup permukaan gambut. Namun, kemampuan tersebut tetap harus diuji secara khusus terhadap kebakaran gambut.
BRIN perlu menguji apakah formulasi berbasis singkong mampu mencapai titik bara, berapa lama efek pendinginannya bertahan, serta seberapa besar kemampuannya mencegah api kembali muncul.
Diminta Dikembangkan dalam Skala Besar
Presiden Prabowo sebelumnya meminta inovasi tersebut tidak berhenti pada produksi skala kecil. Ia mendorong agar bahan berbasis singkong diteliti dan dikembangkan sehingga dapat diuji dalam skala lebih besar.
Pengujian tersebut penting untuk mengetahui apakah teknologi yang efektif dalam skala kecil juga dapat digunakan untuk menangani karhutla yang luas.
Selain efektivitas pemadaman, pemerintah perlu menghitung kebutuhan bahan untuk setiap hektare, biaya produksi, metode distribusi, hingga kemungkinan penggunaannya melalui penyemprotan dari darat maupun udara.
Masih Harus Dibuktikan Secara Ilmiah
Meski memiliki potensi, tepung singkong belum dapat langsung disebut sebagai pengganti water bombing. Teknologi tersebut masih membutuhkan rangkaian penelitian dan pengujian untuk memastikan efektivitas serta keamanannya.
BRIN juga perlu mengkaji dampaknya terhadap tanah, air, tanaman, satwa, dan ekosistem apabila bahan digunakan dalam jumlah besar.
Jika berbagai pengujian tersebut menunjukkan hasil positif, bahan berbasis pati singkong berpeluang menjadi salah satu alternatif untuk membantu pemadaman karhutla, terutama sebagai bahan yang meningkatkan efektivitas air dan memperpanjang proses pendinginan.
Dengan demikian, “ubi bombing” bukan sekadar tepung yang dilemparkan ke api. Teknologi ini mengarah pada pengembangan formulasi berbasis pati yang dirancang untuk membantu pemadaman. Potensinya menarik, tetapi efektivitas sebenarnya tetap harus dibuktikan melalui pengujian BRIN secara terukur sebelum diterapkan secara luas.




