Surabaya, 7 September 2026 – Pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedua gunung api tersebut dikenal memiliki tingkat aktivitas tinggi sehingga perkembangan kondisi vulkaniknya perlu terus dipantau, terutama oleh masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan rawan bencana. Kewaspadaan dinilai semakin penting ketika terjadi peningkatan aktivitas berupa erupsi, guguran material, awan panas maupun perubahan lain yang dapat menimbulkan ancaman bagi wilayah di sekitar gunung. Masyarakat diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas karena karakter aktivitas gunung api dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik menjadi pegangan utama untuk menentukan langkah keselamatan apabila kondisi mengalami perubahan.
Gunung Semeru menjadi salah satu gunung api aktif yang memerlukan perhatian karena aktivitas erupsinya dapat disertai lontaran material vulkanik, abu, guguran hingga potensi awan panas. Kondisi geografis Semeru dengan sejumlah permukiman dan aktivitas masyarakat di wilayah sekitarnya membuat pemahaman mengenai zona bahaya menjadi sangat penting. Warga terutama perlu memperhatikan kawasan yang telah ditetapkan memiliki risiko terhadap aliran material erupsi maupun jalur sungai yang berhulu di sekitar gunung. Material vulkanik yang terakumulasi dapat terbawa aliran air ketika terjadi hujan sehingga menimbulkan ancaman tambahan berupa lahar. Karena itu, risiko tidak hanya muncul ketika erupsi berlangsung, tetapi juga dapat berlanjut setelah aktivitas vulkanik menghasilkan endapan material dalam jumlah besar.
Merapi juga memiliki karakter ancaman yang membutuhkan kewaspadaan tinggi karena aktivitasnya dapat menghasilkan guguran lava dan awan panas menuju sektor tertentu mengikuti kondisi kubah lava serta morfologi lereng. Gunung tersebut dikelilingi kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi sehingga sistem pemantauan dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan perlu memahami jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta prosedur yang harus dilakukan apabila status aktivitas meningkat. Kesiapan tersebut memungkinkan warga bergerak lebih cepat tanpa harus menunggu kondisi berkembang menjadi situasi darurat. Pengalaman menghadapi berbagai episode aktivitas Merapi juga menunjukkan bahwa kedisiplinan mengikuti rekomendasi otoritas memiliki peran besar dalam mengurangi risiko korban.
Pakar ITS menekankan pentingnya memahami bahwa aktivitas gunung api merupakan proses alam yang memiliki karakter berbeda pada setiap gunung. Perubahan tekanan di dalam sistem vulkanik, pergerakan magma, pelepasan gas, deformasi tubuh gunung, serta aktivitas kegempaan menjadi sejumlah indikator yang digunakan untuk membaca perkembangan kondisi. Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai instrumen agar perubahan dapat diketahui sedini mungkin sebelum menjadi ancaman lebih besar. Namun, tidak seluruh proses vulkanik dapat diprediksi secara tepat hingga waktu terjadinya erupsi karena dinamika di bawah permukaan sangat kompleks. Kondisi tersebut menjadi alasan masyarakat di sekitar Semeru dan Merapi tetap perlu mempertahankan kesiapsiagaan meskipun dalam periode tertentu aktivitas gunung terlihat relatif stabil.
Mitigasi menjadi bagian penting untuk menghadapi ancaman karena Indonesia berada pada kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi. Kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan hanya ketika erupsi besar sudah terjadi, melainkan perlu dibangun sejak kondisi masih memungkinkan masyarakat melakukan persiapan secara terencana. Pemerintah daerah bersama lembaga kebencanaan perlu memastikan jalur evakuasi dapat digunakan, tempat pengungsian tersedia, sistem komunikasi berjalan, dan masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan dalam kondisi darurat. Simulasi kebencanaan secara berkala juga dapat membantu warga mengenali prosedur evakuasi sehingga kepanikan dapat diminimalkan ketika peringatan benar-benar dikeluarkan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang membutuhkan bantuan khusus juga perlu menjadi bagian utama dalam perencanaan evakuasi.
Ancaman abu vulkanik turut menjadi perhatian karena dampaknya dapat menjangkau wilayah yang relatif jauh dari pusat erupsi tergantung kekuatan letusan dan arah angin. Partikel abu dapat mengganggu pernapasan, menyebabkan iritasi mata, mengurangi jarak pandang, mencemari sumber air, serta mengganggu kegiatan transportasi dan pertanian. Masyarakat di wilayah yang mengalami hujan abu perlu menggunakan perlindungan yang sesuai dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila konsentrasi abu cukup tinggi. Atap bangunan juga perlu diperhatikan karena akumulasi abu, terutama ketika bercampur dengan air hujan, dapat meningkatkan beban pada struktur. Dampak semacam ini menunjukkan bahwa penanganan erupsi tidak hanya berfokus pada wilayah terdekat dari kawah, tetapi juga kawasan yang berada pada jalur penyebaran material vulkanik.
Perkembangan teknologi pemantauan saat ini membantu para ahli memperoleh berbagai data mengenai kondisi gunung api secara berkelanjutan. Aktivitas kegempaan, deformasi, perubahan visual, emisi gas, hingga kondisi kubah lava dapat menjadi bagian dari parameter yang digunakan dalam evaluasi. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan tingkat aktivitas serta rekomendasi yang diperlukan bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Meski teknologi semakin berkembang, komunikasi risiko tetap menjadi komponen yang sama pentingnya karena informasi ilmiah harus dapat dipahami dan diterapkan masyarakat. Peringatan yang cepat tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila warga tidak memahami zona bahaya atau mengabaikan arahan yang diberikan.
Masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap informasi mengenai aktivitas Semeru maupun Merapi yang beredar melalui media sosial. Ketika terjadi erupsi atau peningkatan aktivitas gunung api, foto dan video lama terkadang kembali beredar sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman mengenai kondisi terkini. Informasi yang belum terverifikasi dapat memicu kepanikan atau sebaliknya membuat masyarakat meremehkan risiko apabila narasi yang beredar tidak sesuai keadaan sebenarnya. Karena itu, perkembangan status aktivitas gunung dan rekomendasi keselamatan sebaiknya mengacu pada informasi resmi dari instansi yang memiliki kewenangan melakukan pemantauan. Masyarakat juga perlu memahami bahwa perubahan rekomendasi dapat dilakukan sewaktu-waktu apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya perkembangan baru.
Peringatan mengenai Semeru dan Merapi pada akhirnya menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan dengan gunung api aktif membutuhkan kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Masyarakat tidak perlu merespons aktivitas vulkanik dengan kepanikan, tetapi harus memahami risiko dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika kondisi berubah. Pemerintah, akademisi, lembaga kebencanaan, serta masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam memperkuat mitigasi dan mengurangi dampak apabila terjadi erupsi. Pemantauan ilmiah harus diikuti kesiapan jalur evakuasi, komunikasi yang jelas, serta kepatuhan terhadap batas kawasan berbahaya yang ditetapkan. Dengan kewaspadaan dan kesiapan yang terjaga, potensi dampak aktivitas Semeru dan Merapi dapat dihadapi secara lebih terukur sekaligus memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat di kawasan rawan.





