Jakarta, 3 September 2026 – Partai Ummat mengalami pergantian kepemimpinan setelah Ketua Umum Ridho Rahmadi dan Sekretaris Jenderal Taufik Hidayat resmi mengundurkan diri dari jabatan masing-masing. Pengunduran diri keduanya berlaku sejak 20 Agustus 2026 dan kemudian diterima secara resmi oleh Majelis Syura Partai Ummat dalam Musyawarah Majelis Syura ke-8 pada 26 Agustus 2026. Untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan, Majelis Syura menunjuk Ansufri ID Sambo sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum dan Muhammad Sadiq sebagai Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal. Pergantian tersebut dilakukan sebagai langkah transisi sambil partai menjalankan konsolidasi kepengurusan di tingkat pusat hingga daerah. Ridho menjelaskan keputusan mundur berkaitan dengan kebutuhan membagi waktu dan tanggung jawab, terutama setelah dirinya kembali berfokus pada aktivitas akademik. Sementara Taufik menyatakan dirinya ikut meninggalkan posisi Sekjen karena kepemimpinannya sejak awal dipilih sebagai satu paket bersama ketua umum. Meski tidak lagi menduduki posisi puncak kepengurusan harian, keduanya disebut tetap memiliki komitmen terhadap perjalanan Partai Ummat.
Ridho Rahmadi telah memimpin Partai Ummat sejak partai tersebut dideklarasikan pada 2021 dan menjadi salah satu figur utama dalam perjalanan awal organisasi politik yang didirikan Amien Rais tersebut. Selama sekitar lima tahun memimpin, Ridho menghadapi berbagai agenda politik, termasuk proses verifikasi sebagai peserta Pemilu 2024 hingga konsolidasi organisasi setelah pemilihan umum. Pengunduran dirinya kemudian disampaikan secara tertulis kepada Majelis Syura dan diproses berdasarkan ketentuan internal partai. Majelis Syura menyatakan menerima keputusan tersebut dengan merujuk pada Anggaran Dasar Partai Ummat yang mengatur mekanisme kepemimpinan dan pergantian pengurus. Langkah serupa berlaku terhadap Taufik Hidayat yang selama ini mendampingi Ridho sebagai Sekjen. Taufik menjelaskan bahwa keputusan meninggalkan jabatan dilakukan karena posisi ketua umum dan sekretaris jenderal sebelumnya ditetapkan dalam satu paket kepemimpinan. Dengan berakhirnya masa tugas Ridho sebagai ketua umum, Taufik memilih mengambil langkah serupa sehingga partai kemudian harus mengisi dua jabatan strategis tersebut secara bersamaan.
Alasan utama Ridho meninggalkan jabatan ketua umum berkaitan dengan kesulitan membagi waktu, pikiran, dan tenaga antara kegiatan politik serta tanggung jawab akademiknya. Ridho saat ini kembali memberikan perhatian besar terhadap Politeknik Artificial Intelligence Budi Mulia Dua di Yogyakarta yang masih berada dalam tahap awal pengembangan. Ia menggambarkan pergantian kepemimpinan sebagai proses estafet yang biasa terjadi dalam sebuah organisasi modern ketika tanggung jawab perlu diteruskan kepada figur berikutnya. Ridho menilai pergantian tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan Partai Ummat secara keseluruhan. Ia masih menjadi anggota Majelis Syura karena dalam struktur internal partai, ketua umum merupakan anggota Majelis Syura yang mendapatkan penugasan untuk memimpin kepengurusan. Dengan posisi tersebut, Ridho masih dapat terlibat dalam pembahasan strategis meskipun tidak lagi menjalankan tugas operasional sebagai ketua umum. Fokus terhadap bidang kecerdasan buatan dan pendidikan kini menjadi salah satu aktivitas utama yang akan kembali dijalaninya setelah meninggalkan jabatan struktural harian partai.
Keputusan Ridho sebelumnya juga telah dibicarakan dengan Ketua Majelis Syura Partai Ummat Amien Rais. Ridho mengatakan Amien memberikan dukungan terhadap pilihannya untuk kembali berkonsentrasi pada kegiatan akademik dan pengembangan kampus. Dalam komunikasi tersebut, Amien juga menyampaikan pesan agar kepemimpinan baru segera mempersiapkan organisasi menghadapi agenda politik berikutnya, terutama Pemilu 2029. Persiapan tersebut menjadi penting karena Partai Ummat masih memiliki pekerjaan besar untuk memperkuat struktur dan meningkatkan dukungan pemilih setelah belum berhasil menempatkan wakil di DPR RI melalui Pemilu 2024. Kepemimpinan transisi karena itu tidak hanya bertugas menjaga kegiatan administratif, tetapi juga harus mulai menyusun arah konsolidasi jangka menengah. Pergantian ketua umum dan sekretaris jenderal secara bersamaan membuat koordinasi internal menjadi salah satu agenda awal yang perlu diselesaikan. Majelis Syura menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi dan tidak seharusnya mengganggu agenda politik yang telah disusun. Stabilitas kepengurusan menjadi penting agar komunikasi dengan struktur daerah dan anggota tetap berjalan selama masa transisi.
Untuk mengisi kekosongan jabatan, Ansufri ID Sambo yang sebelumnya menjabat Sekretaris Majelis Syura ditetapkan sebagai Plt Ketua Umum DPP Partai Ummat. Sementara Muhammad Sadiq mendapatkan mandat sebagai Plt Sekretaris Jenderal untuk mendampingi kepemimpinan sementara tersebut. Keduanya diberikan tugas menjalankan konsolidasi organisasi secara nasional sekaligus memastikan seluruh struktur kepengurusan tetap bekerja setelah pergantian pimpinan. Salah satu agenda administratif yang harus dilakukan adalah mempersiapkan pendaftaran perubahan kepengurusan transisi kepada Kementerian Hukum agar mendapatkan pengesahan sesuai ketentuan. Langkah tersebut diperlukan karena perubahan posisi ketua umum dan sekretaris jenderal menyangkut struktur resmi partai politik yang tercatat dalam administrasi pemerintah. Kepemimpinan sementara juga perlu memastikan keputusan organisasi, komunikasi politik, dan kegiatan partai tetap memiliki landasan yang jelas selama proses transisi. Penunjukan Plt membuat Partai Ummat tidak mengalami kekosongan kepemimpinan setelah pengunduran diri Ridho dan Taufik diterima. Selanjutnya, mekanisme internal partai akan menentukan bagaimana proses menuju kepemimpinan definitif dilaksanakan.
Ansufri ID Sambo menjelaskan keputusan Ridho mundur terutama dipengaruhi keterbatasan waktu akibat meningkatnya tanggung jawab di bidang pendidikan. Mengelola partai secara nasional membutuhkan perhatian besar karena ketua umum harus berkomunikasi dengan struktur kepengurusan di berbagai daerah sekaligus menghadapi agenda politik yang terus berkembang. Pada saat bersamaan, pengembangan institusi pendidikan berbasis kecerdasan buatan yang dipimpin Ridho juga membutuhkan keterlibatan langsung. Kondisi tersebut akhirnya membuat pembagian fokus menjadi semakin sulit dilakukan secara bersamaan. Partai kemudian memilih melakukan transisi agar tugas ketua umum dapat dijalankan figur yang mempunyai ruang lebih besar untuk melakukan konsolidasi. Keputusan tersebut disebut bukan sebagai bentuk konflik internal maupun perpecahan kepengurusan. Partai Ummat berupaya menempatkan pergantian tersebut sebagai proses penyegaran sekaligus pembagian tanggung jawab organisasi. Penjelasan mengenai alasan pengunduran diri juga menjadi penting untuk menghindari munculnya spekulasi mengenai kondisi internal setelah dua pejabat tertinggi partai meninggalkan posisi secara bersamaan.
Pergantian kepemimpinan terjadi ketika Partai Ummat mulai mempersiapkan diri menghadapi perjalanan politik menuju Pemilu 2029. Pada Pemilu 2024, partai tersebut memperoleh suara nasional tetapi belum mampu melewati ambang batas parlemen untuk mendapatkan kursi di DPR RI. Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi mengenai strategi elektoral, penguatan struktur daerah, perekrutan kader, serta perluasan basis pemilih. Waktu menuju pemilu berikutnya memberikan kesempatan kepada kepengurusan untuk melakukan pembenahan organisasi secara bertahap. Kepemimpinan sementara akan menghadapi kebutuhan menjaga struktur yang telah terbentuk sekaligus memperkuat daerah yang masih membutuhkan konsolidasi. Persiapan pencalonan legislatif, pengembangan kader, komunikasi publik, dan penentuan strategi politik menjadi sejumlah pekerjaan yang nantinya harus dilakukan secara sistematis. Perubahan pimpinan di tingkat pusat dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi pendekatan yang digunakan pada pemilu sebelumnya. Namun, keberhasilan proses tersebut sangat bergantung pada kemampuan pengurus menjaga soliditas selama masa transisi.
Ridho sendiri menegaskan bahwa dirinya masih memiliki hubungan dengan Partai Ummat meskipun tidak lagi berada dalam kepengurusan harian. Keberadaannya sebagai anggota Majelis Syura membuat dirinya tetap dapat memberikan kontribusi terhadap pembahasan dan arah strategis partai. Posisi tersebut juga memungkinkan proses peralihan kepemimpinan berlangsung tanpa sepenuhnya kehilangan pengalaman figur yang memimpin sejak awal berdirinya organisasi. Dalam partai yang relatif muda, kesinambungan antara kepemimpinan lama dan baru menjadi penting karena struktur serta basis politik masih berada dalam proses penguatan. Taufik juga diharapkan tetap memberikan kontribusi melalui formasi penugasan yang berbeda setelah meninggalkan jabatan Sekjen. Majelis Syura sebelumnya menyampaikan bahwa kedua tokoh tersebut tetap aktif berjuang dalam lingkungan partai dengan penempatan yang disesuaikan. Dengan demikian, pengunduran diri lebih berkaitan dengan perubahan posisi struktural dibandingkan pemutusan hubungan politik dengan Partai Ummat. Model transisi tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan organisasi sembari memberikan ruang bagi kepemimpinan baru.
Perubahan di pucuk kepemimpinan juga akan menjadi ujian bagi kemampuan Partai Ummat menjalankan regenerasi organisasi. Selama ini sosok Amien Rais memiliki pengaruh kuat sebagai pendiri sekaligus Ketua Majelis Syura, sedangkan Ridho menjadi wajah utama kepengurusan sejak partai berdiri. Penunjukan Ansufri ID Sambo sebagai Plt Ketua Umum membuka fase baru karena tanggung jawab operasional kini berada pada figur berbeda. Kepemimpinan sementara harus membangun komunikasi dengan pengurus wilayah dan daerah agar pergantian di tingkat pusat tidak menimbulkan ketidakpastian dalam menjalankan program. Konsolidasi juga diperlukan untuk memastikan agenda politik dan kaderisasi yang telah direncanakan dapat diteruskan tanpa gangguan berarti. Pada saat yang sama, partai memiliki waktu untuk menentukan mekanisme pemilihan pimpinan definitif sesuai aturan internal. Keputusan mengenai figur ketua umum berikutnya akan memiliki arti penting karena orang tersebut berpotensi memimpin persiapan menuju Pemilu 2029. Pengalaman Pemilu 2024 menjadi salah satu modal evaluasi untuk menentukan strategi yang lebih efektif pada kontestasi berikutnya.
Majelis Syura menempatkan pergantian ini sebagai perputaran organisasi yang dilakukan untuk penyegaran sekaligus pembagian beban kerja struktural. Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Ridho yang mengibaratkan kepemimpinan partai sebagai estafet yang dapat diteruskan ketika figur sebelumnya perlu mengalihkan fokus. Partai Ummat kini memiliki waktu sekitar tiga tahun sebelum Pemilu 2029 untuk memperbaiki kelemahan dan memperluas dukungan politik. Tantangan tidak ringan karena persaingan partai politik diperkirakan tetap ketat, termasuk dengan partai parlemen maupun kekuatan politik baru yang berusaha memperoleh suara. Konsolidasi hingga tingkat daerah menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kemampuan partai mempertahankan dan meningkatkan basis pemilih. Selain struktur, partai perlu menyiapkan kader yang memiliki daya tarik elektoral dan mampu membangun hubungan dengan masyarakat di daerah pemilihan masing-masing. Kepemimpinan transisi akan menjadi fase awal untuk menentukan seberapa cepat proses tersebut dapat dilakukan. Stabilitas internal selama pergantian pimpinan juga akan menjadi indikator penting mengenai kesiapan organisasi menghadapi kompetisi politik berikutnya.
Mundurnya Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat dari jabatan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal akhirnya membuka fase baru dalam perjalanan Partai Ummat sejak berdiri pada 2021. Keputusan keduanya telah berlaku sejak 20 Agustus dan diterima Majelis Syura melalui musyawarah pada 26 Agustus 2026, sehingga proses pergantian dilakukan melalui mekanisme internal partai. Ansufri ID Sambo dan Muhammad Sadiq kini memegang tanggung jawab sebagai pelaksana tugas untuk menjaga keberlangsungan kepengurusan sekaligus menjalankan konsolidasi nasional. Ridho memilih kembali memberikan perhatian besar kepada dunia akademik dan pengembangan pendidikan kecerdasan buatan, tetapi tetap berada dalam lingkungan partai sebagai anggota Majelis Syura. Amien Rais juga memberikan dukungan terhadap keputusan tersebut sambil menitipkan pesan agar kepemimpinan berikutnya mempersiapkan Partai Ummat menghadapi Pemilu 2029. Dalam jangka pendek, kepengurusan transisi harus menyelesaikan perubahan administratif sekaligus menjaga koordinasi dengan struktur di seluruh daerah. Dalam jangka lebih panjang, tantangan utama adalah memperkuat basis politik dan memperbaiki pencapaian elektoral setelah belum berhasil masuk DPR RI pada pemilu sebelumnya. Pergantian kepemimpinan ini dengan demikian menjadi momentum penting yang akan menentukan arah konsolidasi dan strategi Partai Ummat menuju kontestasi politik nasional berikutnya.





