Jakarta, 1 September 2026 – DPP GRIB Jaya mengungkap alasan organisasi tersebut turun ke lapangan ketika kerusuhan terjadi setelah demonstrasi di sekitar Gedung DPR pada 27 Agustus 2026. Sekretaris Jenderal DPP GRIB Jaya Zulfikar mengatakan kehadiran anggota organisasinya bukan untuk mengikuti aksi demonstrasi, melainkan untuk menghalau kelompok yang dinilai melakukan tindakan anarkis. Menurutnya, GRIB Jaya sebelumnya memantau perkembangan demonstrasi yang berlangsung di kawasan DPR. Organisasi tersebut mengaku melihat adanya potensi kerusuhan setelah sebagian massa yang menyampaikan aspirasi secara damai mulai meninggalkan lokasi. Situasi itu kemudian disebut menjadi alasan sejumlah anggota GRIB Jaya memilih turun ke lapangan.
Zulfikar menjelaskan bahwa demonstrasi yang dilakukan sejumlah kelompok masyarakat pada awalnya berlangsung dengan tertib. Ia mencontohkan massa dari Pati yang datang ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi kemudian membubarkan diri secara damai setelah kegiatan selesai. Namun, menurut Zulfikar, pada sore hingga malam hari mulai muncul kelompok lain yang melakukan tindakan anarkis. Kelompok tersebut disebut melakukan pengrusakan fasilitas umum, merusak kendaraan pribadi, serta melempar batu. Kondisi tersebut dinilai sudah berbeda dari aktivitas penyampaian pendapat yang berlangsung sebelumnya.
GRIB Jaya menyebut tindakan kelompok yang dianggap sebagai perusuh tersebut semakin meningkat ketika malam hari. Zulfikar mengatakan terdapat orang-orang yang membawa berbagai benda seperti tongkat, rantai, dan batu yang menurutnya telah dipersiapkan sebelumnya. Ia juga menyebut kelompok tersebut muncul dari sejumlah titik dan bergerak secara berkelompok. Kondisi itu membuat GRIB Jaya menilai situasi di sekitar lokasi demonstrasi berpotensi semakin tidak terkendali. Atas pertimbangan tersebut, sejumlah anggota organisasi kemudian memilih berada di lapangan untuk memantau keadaan dan berupaya mencegah kerusuhan meluas.
Zulfikar menegaskan bahwa GRIB Jaya membedakan antara peserta demonstrasi yang menyampaikan aspirasi dengan kelompok yang melakukan tindakan anarkis. Menurutnya, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara damai dan organisasi tersebut tidak mempersoalkan kegiatan tersebut. Persoalan muncul ketika terdapat pihak yang melakukan pengrusakan maupun tindakan yang dapat membahayakan masyarakat lain. GRIB Jaya mengklaim kehadiran mereka diarahkan untuk menghadapi situasi tersebut, bukan untuk mengganggu demonstrasi yang berlangsung tertib. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai penjelasan atas keberadaan sejumlah anggota GRIB Jaya di sekitar lokasi kerusuhan.
Kehadiran GRIB Jaya di tengah situasi tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena beredar berbagai rekaman yang memperlihatkan sejumlah anggota organisasi berada di sekitar kawasan demonstrasi. Keberadaan Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules juga sempat menjadi sorotan. Pihak organisasi sebelumnya membenarkan bahwa Hercules berada di lokasi ketika situasi mulai memanas. Namun, GRIB Jaya membantah anggapan bahwa keberadaan mereka menunjukkan keterlibatan dalam aksi demonstrasi maupun kerusuhan.
Pihak GRIB Jaya juga menekankan bahwa keberadaan mereka tidak dimaksudkan untuk mengambil alih tugas aparat keamanan. Penanganan kerusuhan tetap merupakan kewenangan aparat sesuai dengan aturan yang berlaku. Organisasi tersebut menyatakan kehadiran anggotanya lebih berkaitan dengan upaya menjaga situasi di lapangan agar tidak semakin meluas. Penjelasan itu disampaikan menyusul munculnya berbagai tudingan yang mengaitkan GRIB Jaya dengan sejumlah peristiwa selama kerusuhan. Organisasi tersebut menyatakan siap memberikan klarifikasi apabila terdapat informasi yang dianggap tidak sesuai dengan fakta.
Kerusuhan setelah demonstrasi DPR pada 27 Agustus sendiri menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kerusakan fasilitas hingga munculnya informasi mengenai sejumlah korban. Situasi tersebut membuat keterlibatan berbagai kelompok di sekitar lokasi menjadi perhatian publik. Aparat kemudian melakukan penyelidikan terhadap berbagai kejadian yang berlangsung selama aksi dan kerusuhan. Di tengah proses tersebut, GRIB Jaya berusaha memberikan penjelasan mengenai alasan anggotanya berada di lokasi. Mereka menegaskan bahwa aktivitas organisasi perlu dibedakan dari tindakan individu atau kelompok lain yang berada di kawasan yang sama.
Zulfikar mengatakan GRIB Jaya tetap menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi. Namun, ia menilai penyampaian pendapat harus dilakukan secara tertib dan tidak disertai tindakan yang merugikan masyarakat maupun merusak fasilitas. Menurutnya, ketika aksi berubah menjadi tindakan anarkis, diperlukan langkah untuk mencegah situasi semakin memburuk. GRIB Jaya mengklaim keputusan turun ke lapangan didasarkan pada kondisi yang mereka lihat secara langsung saat itu. Organisasi tersebut berharap penjelasan ini dapat memberikan gambaran mengenai alasan keberadaan mereka di sekitar lokasi kerusuhan.
Dengan adanya penjelasan tersebut, GRIB Jaya menegaskan bahwa kehadiran mereka saat kerusuhan demo DPR bukan untuk menjadi bagian dari massa demonstran. Organisasi tersebut menyatakan turun ke lapangan karena menilai situasi sudah berkembang menjadi kerusuhan dan terdapat kelompok yang melakukan tindakan anarkis. Meski demikian, seluruh dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam berbagai peristiwa selama kerusuhan tetap menjadi ranah penyelidikan aparat. Fakta mengenai apa yang terjadi di lapangan akan ditentukan berdasarkan keterangan, rekaman, dan bukti lain yang diperoleh dalam proses pemeriksaan. GRIB Jaya sendiri menyatakan akan terus memberikan klarifikasi terkait tudingan yang mengaitkan organisasinya dengan kerusuhan tersebut.





