Tangerang Selatan, 9 September 2026 – Pemerintah Kota Tangerang Selatan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sempat mencapai sejumlah wilayah di Banten dan sekitarnya. Dinas Kesehatan Tangerang Selatan mencatat sebanyak 4.844 kasus ISPA secara kumulatif hingga pekan ke-34 tahun 2026. Meski jumlah tersebut mencapai ribuan kasus, pemerintah menegaskan angka itu merupakan akumulasi sejak 1 Januari dan bukan seluruhnya muncul setelah erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan hingga Rabu sore juga belum memperlihatkan lonjakan signifikan kasus ISPA yang secara khusus dapat dikaitkan dengan paparan abu vulkanik. Kendati demikian, kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan tetap diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Langkah pencegahan dinilai penting karena paparan partikel abu secara terus-menerus berpotensi menyebabkan iritasi dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Fitria Oriza menjelaskan data 4.844 kasus tersebut harus dipahami berdasarkan periode pencatatannya. Jumlah itu merupakan kasus yang masuk dalam pemantauan sejak awal tahun hingga akhir pekan ke-34, sehingga tidak tepat apabila seluruh kasus langsung disebut sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. ISPA dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi virus dan bakteri hingga kualitas udara serta kondisi lingkungan. Karena itu, Dinas Kesehatan membandingkan perkembangan kasus dari minggu ke minggu untuk melihat apakah muncul perubahan setelah abu vulkanik menyebar. Hingga pemantauan terakhir, pola kasus di Tangerang Selatan masih relatif serupa dengan periode sebelumnya. Pemerintah tetap meningkatkan pengawasan karena dampak paparan partikel terhadap kesehatan dapat berbeda pada setiap orang.
Abu vulkanik menjadi perhatian karena karakteristiknya berbeda dibandingkan debu yang biasa ditemukan di lingkungan perkotaan. Material tersebut dapat mengandung partikel silika berukuran sangat kecil yang berpotensi masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Paparan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan maupun saluran pernapasan, terutama apabila seseorang berada cukup lama di luar ruangan tanpa menggunakan perlindungan. Partikel halus juga dapat mengenai mata dan menimbulkan rasa perih, kemerahan atau iritasi. Pemerintah karena itu meminta masyarakat tidak menganggap abu vulkanik sama dengan debu jalanan biasa meskipun secara visual lapisannya terlihat tipis. Pencegahan tetap diperlukan sampai kondisi lingkungan benar-benar kembali normal dan risiko paparan menurun.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang mendapatkan perhatian lebih besar karena kondisi tubuh mereka dapat lebih sensitif terhadap perubahan kualitas udara. Orang dengan riwayat asma, penyakit paru, gangguan jantung atau masalah pernapasan lainnya juga dianjurkan lebih berhati-hati. Apabila tidak memiliki keperluan mendesak, mereka sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan selama masih terdapat kemungkinan paparan abu. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu perlindungan paling sederhana untuk mengurangi partikel yang masuk ke saluran pernapasan. Masyarakat juga dianjurkan memperhatikan kondisi tubuh setelah beraktivitas di luar, terutama apabila muncul batuk berkepanjangan, sesak, tenggorokan terasa tidak nyaman atau keluhan lainnya. Pemeriksaan di fasilitas kesehatan diperlukan apabila gejala semakin berat atau tidak menunjukkan perbaikan.
Risiko terhadap mata juga menjadi perhatian Dinas Kesehatan Tangerang Selatan. Masyarakat diminta tidak mengucek mata ketika terkena abu karena partikel vulkanik dapat menggores permukaan mata dan memperparah iritasi. Cara yang lebih aman adalah membilas mata menggunakan air bersih mengalir sehingga partikel dapat keluar tanpa menimbulkan gesekan berlebihan. Kacamata dapat digunakan ketika berada di lingkungan dengan paparan abu untuk memberikan perlindungan tambahan. Setelah kembali ke rumah, masyarakat juga disarankan membersihkan wajah, tangan, rambut dan pakaian yang kemungkinan terkena material. Kebersihan lingkungan perlu diperhatikan agar abu yang sudah mengendap tidak kembali beterbangan ketika terkena angin atau aktivitas kendaraan. Upaya sederhana tersebut dapat membantu mengurangi paparan berulang selama kondisi udara belum sepenuhnya stabil.
Kekhawatiran terhadap kesehatan peserta didik sebelumnya menjadi salah satu alasan Pemkot Tangerang Selatan menerapkan pembelajaran jarak jauh sementara bagi sekolah. Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai tindakan pencegahan agar anak-anak tidak terlalu banyak melakukan perjalanan dan aktivitas di luar ruangan ketika abu vulkanik masih menjadi perhatian. PJJ kemudian diperpanjang hingga 9 September sambil pemerintah memantau kualitas udara dan arah sebaran material vulkanik. Dinas Pendidikan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan BPBD untuk menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka sudah aman dilaksanakan kembali. Kebijakan pendidikan tersebut tidak berarti telah ditemukan peningkatan besar ISPA pada siswa, melainkan merupakan bentuk mitigasi sebelum muncul dampak kesehatan yang lebih luas. Pemerintah ingin mengurangi paparan pada anak karena mereka termasuk kelompok yang dinilai lebih rentan.
Pada Rabu sore, kondisi Tangerang Selatan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyebut arah sebaran abu tidak lagi menuju wilayahnya dan Indeks Standar Pencemar Udara berada di sekitar angka 65. Laporan Dinas Kesehatan hingga sekitar pukul 15.00 WIB juga tidak menunjukkan adanya lonjakan kasus ISPA. Kondisi tersebut membuat pemerintah membuka kemungkinan kegiatan pembelajaran tatap muka kembali dilaksanakan setelah masa PJJ selesai. Meski demikian, sekolah tetap diminta mempertahankan sejumlah langkah perlindungan apabila kegiatan belajar normal kembali berjalan. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan, pembatasan aktivitas siswa di halaman sekolah dan pengawasan kondisi kesehatan peserta didik tetap menjadi perhatian selama situasi belum sepenuhnya dinyatakan normal.
Pemkot Tangerang Selatan juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis di seluruh puskesmas apabila mengalami keluhan yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik. Pemeriksaan dapat dilakukan ketika muncul gangguan pernapasan, iritasi mata maupun masalah pada kulit setelah beraktivitas di lingkungan yang terdampak. Fasilitas kesehatan sekaligus menjadi bagian penting dalam sistem pemantauan karena perubahan jumlah kunjungan pasien dapat memberikan gambaran mengenai dampak lingkungan terhadap masyarakat. Apabila ditemukan kecenderungan peningkatan kasus pada lokasi atau kelompok tertentu, pemerintah dapat melakukan intervensi yang lebih terarah. Pencegahan diperlukan agar iritasi pada saluran pernapasan tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih berat, termasuk infeksi lanjutan pada orang dengan kondisi tertentu. Masyarakat juga diminta tidak menunggu keluhan menjadi parah sebelum mencari pertolongan medis.
Perbedaan antara angka kasus kumulatif dan peningkatan kasus akibat sebuah kejadian menjadi hal penting dalam memahami situasi kesehatan di Tangerang Selatan. Angka 4.844 kasus ISPA yang tercatat hingga pekan ke-34 menggambarkan jumlah kasus selama berbulan-bulan dan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan dampak abu Gunung Anak Krakatau. Untuk mengetahui pengaruh erupsi, pemerintah perlu melihat perubahan jumlah kasus sebelum dan setelah paparan serta mempertimbangkan faktor lingkungan lainnya. Pemantauan semacam itu dilakukan melalui sistem kewaspadaan dini yang menerima laporan dari fasilitas pelayanan kesehatan. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat apakah terdapat peningkatan tidak biasa dibandingkan pola normal. Pendekatan ini diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang proporsional tanpa meremehkan risiko maupun menimbulkan kekhawatiran yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.
Pemerintah Tangerang Selatan memastikan pemantauan terhadap kualitas udara dan kasus gangguan pernapasan akan terus dilakukan meskipun kondisi mulai membaik. Masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan orang dengan penyakit pernapasan, tetap dianjurkan mengurangi aktivitas luar ruangan apabila kembali terlihat abu atau kualitas udara mengalami penurunan. Penggunaan masker, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari mengucek mata serta segera melakukan pemeriksaan ketika mengalami keluhan menjadi langkah yang dapat dilakukan secara mandiri. Pemerintah juga akan menyesuaikan kebijakan sekolah dan aktivitas publik berdasarkan perkembangan kualitas udara serta laporan kesehatan terbaru. Hingga pemantauan terakhir, belum ditemukan lonjakan signifikan ISPA di Tangerang Selatan yang dapat secara langsung dikaitkan dengan abu vulkanik, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan untuk mencegah kondisi tersebut berubah. Fokus pemerintah saat ini adalah menjaga paparan serendah mungkin sekaligus memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal ketika kondisi lingkungan dinilai aman.







