Jakarta, 27 September 2026 –
Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) Jakarta memasuki usia ke-24 pada 22 September 2026. Lebih dari dua dekade berjalan, kegiatan tersebut tetap mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Kondisi itu terlihat di kawasan Sudirman–Thamrin pada Minggu (27/9/2026) pagi yang dipadati warga hingga menjelang berakhirnya kegiatan sekitar pukul 10.00 WIB. Masyarakat memanfaatkan jalan yang terbebas dari kendaraan bermotor untuk berolahraga, berjalan santai, hingga berkumpul bersama keluarga.
Beragam aktivitas terlihat sepanjang koridor Sudirman–Thamrin. Sebagian warga memilih berlari dan berjalan kaki, sedangkan lainnya bersepeda atau menggunakan sepatu roda. Pengunjung juga datang dari berbagai kelompok usia sehingga CFD tidak lagi sekadar menjadi ruang olahraga bagi komunitas tertentu. Kawasan jalan utama Jakarta tersebut telah berkembang menjadi ruang publik yang digunakan masyarakat untuk beraktivitas pada Minggu pagi.
Tingginya minat masyarakat juga tercermin dari data pemantauan Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Jumlah pejalan kaki dalam kegiatan HBKB pada periode Januari hingga Mei 2026 tercatat mencapai 291.852 orang. Angka tersebut meningkat 9,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 265.952 orang. Pemprov DKI menilai perkembangan itu menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik untuk berolahraga, berinteraksi, dan menjalankan gaya hidup sehat masih cukup tinggi.
Perkembangan CFD Jakarta tahun ini juga ditandai dengan kembalinya HBKB di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Kegiatan di kawasan tersebut kembali digelar rutin mulai 7 Juni 2026 setelah sebelumnya menjalani evaluasi. Lintasannya memiliki panjang total 4,4 kilometer dan dibagi menjadi dua segmen masing-masing sepanjang 2,2 kilometer. Kehadiran lokasi tersebut memberikan alternatif bagi warga yang sebelumnya banyak terkonsentrasi di koridor Sudirman–Thamrin.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya menyebut respons masyarakat terhadap CFD Rasuna Said cukup positif. Berdasarkan interaksinya dengan warga saat pembukaan kembali kawasan tersebut pada Juni, ia mengatakan sekitar 95 hingga 96 persen masyarakat yang ditemuinya menginginkan kegiatan itu berlanjut. Selain berjalan kaki, berlari, dan bersepeda, kawasan Rasuna Said juga dimanfaatkan sebagai tempat interaksi sosial. Pemprov DKI menilai akses transportasi publik di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung penyelenggaraan HBKB.
Selain menyediakan ruang aktivitas bagi masyarakat, HBKB menjadi bagian dari kebijakan Pemprov DKI untuk mendorong mobilitas yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah mencatat kualitas udara di sekitar Rasuna Said ketika HBKB berlangsung pernah menunjukkan kondisi lebih baik dibandingkan hari kerja. Kebijakan ini juga diarahkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta mendorong masyarakat berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi umum. Meski demikian, kualitas udara Jakarta dipengaruhi berbagai sumber emisi sehingga pelaksanaan CFD merupakan salah satu dari sejumlah langkah yang diperlukan untuk mengendalikan pencemaran udara.
Setelah berjalan selama 24 tahun, CFD Jakarta kini memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menutup ruas jalan dari kendaraan bermotor selama beberapa jam. Kawasan tersebut telah berkembang menjadi ruang olahraga, interaksi sosial, kegiatan komunitas, hingga kampanye publik yang dimanfaatkan masyarakat setiap akhir pekan. Peningkatan jumlah pejalan kaki serta perluasan HBKB ke Rasuna Said memperlihatkan tingginya kebutuhan warga terhadap ruang kota yang nyaman untuk beraktivitas. Antusiasme masyarakat yang tetap terjaga setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu alasan Pemprov DKI terus mengevaluasi dan mengembangkan penyelenggaraan HBKB di Jakarta.





